Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juni 2017

Terrancam 14 Tahun Bui, Buni Yani Nangis Minta Maaf ke Pihak Ahok! ini Faktanya...


Satu bulan setelah Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok divonis penjara dua tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Pengadilan Negeri Bandung akhirnya menggelar persidangan kasus Buni Yani.

Persidangan Buni Yani erat kaitannya dengan kasus Ahok, dimana Ahok diseret ke meja hijau setelah Buni Yani memposting video potongan pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang mengutip ayat 51 surat Al Maidah. Sementara Buni Yani menjadi pesakitan di ruang sidang terkait aksinya mengunggah penggalan video pidato Ahok.

Dalam kasus ini, polisi tak mempermasalahkan konten video yang diunggah Buni Yani. Namun caption atau deskripsi yang ditulis Buni Yani di akun Facebook-nya dianggap melanggar Pasal 28 ayat 2, juncto Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sebelum menjadi pesakitan, Buni Yani sempat menggugat praperadilan, namun ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Setelah terancam pidana 14 tahun penjara, buni yani pun tergetar hatinya. Bahkan terlihat jelas matanya memerah menahan airmata. Buni yani meminta maaf kepada pihak Ahok untuk memaafkannya, meminta keringanan agar tidak dijatuhi tuntutan hukuman terlalu lama.

Buni yani juga juga mengatakan keberatan, rasanya terlalu berat jeratan hukum yang dijatuhkan padanya.

Kalau saya dihukum selama itu gara-gara video, saya rasa tidak masuk akal. Bagaimana dengan nasib keluarga saya. Saya harap dipertimbangkan lagi.

ujar salah satu pengacara Buni Yani, "Kita sudah siapkan semua. Kita akan usahakan yang terbaik untuk Pak Buni," katanya.

Bandung dipilih sebagai lokasi persidangan Buni Yani karena pertimbangan kondusifitas. "Alasannya adalah untuk kelancaran," kata Kepala Kejaksaan Negeri Depok Sufari.

Hingga saat ini, pihaknya tetap yakin bahwa Buni Yani tidak bersalah. Menurut dia, unggahan Buni Yani tersebut adalah bentuk kritikan atas pernyataan Ahok terkait Surat Al Maidah ayat 51. Apalagi Ahok sudah divonis bersalah terkait kasus penodaan agama.

"Sangat sangat yakin tidak bersalah. Harusnya lepas dari segala tuntutan. Tapi, kita sebagai warga negara yang taat hukum, kita ikuti aja proses peradilannya," tandas Aldwin.

Kamis, 22 Juni 2017

Seperti Kepompong, Ahok Akan Keluar Jadi Kupu-kupu dengan Sayap Indah , Bagaimana Menurut Anda ?


 Pemilik akun Facebook Awan Kurniawan mengisahkan pengalamannya bertemu dengan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)  di tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Jumat

Ahok ditahan setelah dalam sidang putusan pada Selasa (9/5/2017) lalu, hakim memvonisnya bersalah dalam kasus penistaan agama dan dihukum dua tahun penjara.

"Aku tahu Ahok terpenjara, namun hatinya merdeka. Ia sedang menjadi ulat dalam kepompong sebelum keluar menjadi kupu dengan sayap indahnya. Terima kasih Ahok," kata Awan.

Berikut kisah Awan bertemu Ahok yang ditulis di akun Facebook-nya, dikutip Rabu (21/6/2017).

Hari ini beruntung bisa berdiskusi dengan Ahok secara langsung, mengunjunginya d Penjara. Ahok terlihat lebih segar, ia bercerita banyak olahraga di dalam sel.

Cukup lama kami saling bicara, ia banyak bercanda melontarkan joke segar. Ia bercerita, awalnya ia sulit tidur di dalam, tiap jam terbangun. Namun perlahan ia mulai bisa memaafkan, berdamai dengan keadaan

" kata Charlie Chaplin, hidup ini terlalu berharga jika kita tidak tertawa" ujar Ahok berseloroh. Tawanya begitu lepas. Namun aku tahu ia menyimpan bebannya sendiri.

Aku sendiri tidak banyak bicara, lbih banyak mendengar. Ahok mengaku banyak membaca dan mulai menulis. Ia punya banyak waktu untuk melakukan itu. Ahok telah menyita begitu banyak perhatian, ia menumbuhkan dan menyebarkan benih kecintaan pada bangsa ini. Begitu banyak orang yang jatuh cinta gegara Ahok.

Hari ini kawanku, emak emak keren yang tadinya tidak peduli dengan politik ikut terpanggil untuk hadir dan terlibat. Ahok memanggil Silent majority untuk ikut berdiri menyuarakan kecintaanya pada bangsa.

Ini energi yang luar biasa untuk bangsa ini. Apapun latar belakangmu, jika engkau cinta bangsa ini dan mau ikut bergerak memberi yang engkau bisa pada bangsa, maka engkau adalah pahlawan. Energi kecintaan kalian pada bangsa adalah jejaring semesta yang menautkan kita semua.

Berat memang untuk bergerak, karena ada kekuatan gelap yang juga bergerak untuk mengoyak cita mulia kita ini. Tapi kita tidak boleh takut untuk terus bersuara. Kita harus melawan kekuatan gelap itu bersama sama.

Tadi, dari dalam jeruji Ahok menyampaikan kalimat yang membuat hatiku gerimis, mata membasah

" Kita tidak boleh takut, kita harus terus melawan. Musuh tidak boleh merasa dirinya menang. Bila nanti kita melawan dan mati, matilah dengan berdiri Ahok menyampaikan dengan mimiknya yang khas.

Aku tahu Ahok bisa lebih baik lgi. Tuhan memberinya waktu untuk merenung, mengumpulkan cercah hikmah dan merajutnya dalam semesta pengetahuan,

"Aku ingin mengajar, dan menulis" ujar Ahok.

Buku yang Ahok tulis nanti akan menjadi Madilog, Nasihatul Mulk, di bawah bendera revolusi, atau mungkin juga menjadi negara Paripurna kedua.

Entahlah, tapi aku tahu Ahok terpenjara, namun hatinya merdeka. Ia sedang menjadi ulat dalm kepompong sebelum keluar menjadi kupu dengan sayap indahnya. Terima kasih Ahok.

Senin, 19 Juni 2017

"Usai ditinggal Ahok, PNS DKI baru sadar betapa Hebatnya Ahok selama ini.. Kisahnya pun bikin nangis!"


Basuki Tjahaja Purnama boleh saja mendekam di penjara. Dalam waktu dekat, dirinya juga akan segera digantikan oleh Djarot Saiful Hidayat. Namun jejak kerja dan kiprahnya selama hampir tiga tahun memimpin ibu kota, masih membekas di benak sejumlah anak buahnya.

Hal itu diakui salah satunya oleh Sumarni dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Sumarni mengaku merasa kehilangan sosok Ahok yang biasa ia temani hampir setiap pagi untuk membantu sang gubernur menerima aduan warga soal Kartu Jakarta Sehat (KJS).

"Gimana ya, pasti merasa kehilangan. Kan kami selalu mendampingi. Terkadang di sampingnya, di belakangnya," kata Sumarni saat ditemui oleh CNNIndonesia.com di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (9/6)

Menurut Sumarni, selain tegas dan disiplin, Ahok adalah sosok yang pintar dan sangat tepat waktu. "Kalau sama Pak Ahok semuanya on time," ucapnya.

Sementara itu, menurut Sumarna dari Biro Umum DKI Jakarta, Ahok adalah sosok yang luar biasa baik dari pengetahuan maupun kemampuannya bekerja.

Ahok, kata Sumarna, sering pulang malam dan makan sambil bekerja hanya untuk menyelesaikan berkas-berkas pekerjaannnya.

"Enggak ada waktu santai-santai. Padahal, jadwalnya padat. Saya salut. Kalau malam berkas belum selesai dibawa pulang, besok dibawa lagi," tutur Sumarna.

Sumarna yang menjadi bagian dari satuan pengamanan kantor gubernur DKI Jakarta juga merasa kehilangan Ahok. Menurut dia, sekarang Balai Kota DKI Jakarta sudah tidak seramai dulu saat masih ada Ahok.

"Bedanya terasa lebih sepi sekarang, tapi saya kurang tahu pasti apa alasannya. Apa karena sudah tidak ada Pak Ahok atau karena ada faktor yang lain," ucapnya.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com beberapa hari terakhir, kantor Balai Kota DKI Jakarta memang terlihat tidak seramai dulu.

Sistem layanan pengaduan masyarakat yang dulu menumpuk jadi satu di pendopo Balai Kota DKI Jakarta, sekarang sudah disediakan meja-meja khusus sesuai dengan bidang aduannya masing-masing.

Masyarakat yang ingin mengadukan masalahnya tidak perlu lagi menunggu hingga pelaksana gubernur datang. Mereka bisa langsung mengadukan masalahnya kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait.

Ahok pada 9 Mei 2017 dinyatakan bersalah dalam kasus penodaan agama.

Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis Ahok dua tahun penjara karena terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penodaan agama. Ahok langsung dibawa ke Rumah Tahanan Cipinang, sebelum akhirnya mendekam di Rumah Tahanan Markas Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat kemudian ditetapkan sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta untuk menggantikan Ahok memimpin ibu kota.